Salah Pilih Pekerjaan Bisa Bikin Gemuk?

Bukan hanya bisa menentukan jumlah penghasilan yang dibawa pulang, jenis pekerjaan juga ternyata bisa mempengaruhi nilai timbangan berat badan Anda!

Pernahkah Anda berpikir bahwa jenis profesi tertentu bisa membuat berat badan seseorang melambung pesat? Jika pernah, jenis pekerjaan yang terlintas dalam pikiran Anda barangkali adalah seorang chef yang sehari-harinya berkutat di dalam dapur, bukan? Ternyata dugaan itu salah besar. Pasalnya, menurut sebuah survey yang dilakukan oleh CareerBuilder sebuah situs pemberi informasi lowongan kerja, jenis pekerjaan yang paling berisiko menimbulkan kegemukan pada orang yang melakoninya adalah staf admnistrasi! Profesi lainnya secara berturut-turut adalah engineer, guru, perawat, serta petugas IT.

Ketika survey tersebut dilakukan terhadap 3600 pekerja full time di Amerika, lebih dari separuh responden menyatakan bahwa dirinya memiliki kelebihan berat badan. Sebanyak 41% diantaranya mengaku bahwa penambahan berat badan tersebut dialaminya sewaktu melakoni profesi yang digelutinya saat ini. Di antara para responden yang menyatakan bahwa dirinya memiliki berat badan berlebih tadi, sebanyak 59% di antaranya memiliki kelebihan nilai timbangan hingga 5 kg dan 30% diantaranya mencapai angka 10 kg. Dalam kondisi sebaliknya, hanya sekitar 16% responden yang menyatakan bahwa dirinya mengalami penurunan berat badan selama menjalani profesinya saat ini.

Berdasarkan hasil survey tersebut, jenis pekerjaan yang paling berisiko menimbulkan kelebihan berat badan adalah:

  1. Staf administrasi (69%)
  2. Engineer (56%)
  3. Guru / tenaga pelatih (51%0
  4. Perawat / tenaga
  5. Petugas IT (51%)
  6. Pengacara, jaksa, hakim (48%)
  7. Operator mesin (45%)
  8. Peneliti (39%)

Rosemary Haefner, Vice President divisi personalia di CareerBuilder menyatakan bahwa pertambahan berat badan tersebut adalah kombinasi dari kebiasaan makan yang salah serta kesibukan kerja yang mengakibatkan seseorang kekurangan waktu untuk berolahraga. Selain itu, masih menurut Haefner, faktor penyebab lainnya adalah tekanan pekerjaan yang tinggi sehingga mengakibatkan seseorang mengalami “stress eating” dan terlalu banyak duduk saat bekerja.

Lantas, haruskah berganti pekerjaan untuk melepaskan diri dari “perangkap” kenaikan berat badan? Tentunya tak perlu melakukan tindakan yang seekstrim itu. Menurut Haefner, yang perlu Anda lakukan adalah mendisiplinkan diri dan meluangkan waktu untuk berolahraga, menyediakan camilan sehat di meja kerja, serta mengelola stres dengan cara yang benar. Dengan cara tersebut, apa pun jenis pekerjaan yang Anda tekuni, kesehatan dan berat badan akan senantiasa terpelihara dengan baik.

Selamat bekerja!

Sumber:
http://www.dailymail.co.uk/health/article-2333822/Is-job-making-fat-Receptionists-likely-pile-pounds-while-scientists-skinniest.html
http://www.nydailynews.com/life-style/health/job-making-fat-administrative-assistants-pack-job-related-weight-study-article-1.1362079

Kelebihan Berat Badan Dan Obesitas: Deteksi Dini Dan Penanganannya

Ditulis oleh:
Dr. A. Firmansah Wargahadibrata, SpGK, MKes
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Cabang Jawa Barat 

 

Kegemukan terjadi akibat berbagai faktor terhadap kehidupan seseorang. Faktor genetik adalah salah satu faktor penting, faktor lainnya yang berpengaruh adalah perilaku makan dan gaya hidup. Dilaporkan, khususnya di Asia, bahwa banyak diantara mereka yang mengalami kegemukan adalah orang-orang yang sebelumnya tidak gemuk. Sehingga sangatlah penting untuk memperhatikan perubahan berat badan anda. Bila anda tadinya kurus dan pada waktu tertentu berat badan anda naik terus, maka walaupun belum mencapai apa yang disebut kegemukan, anda memiliki risiko untuk mengalami masalah kesehatan yang sama.

Kegemukan (Obesitas) terjadi karena adanya penambahan jumlah jaringan lemak yang berlebihan yang jauh di atas normal. Obesitas memang sering menjadi permasalahan citra diri yang berdampak pada masalah sosial yang tidak menyenangkan. Obesitas karena sebab apapun merupakan faktor risiko bagi timbulnya berbagai penyakit seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, stroke, radang sendi tulang, osteoporosis, penyakit kanker. Obesitas juga merupakan faktor risiko terjadinya masalah kesehatan seperti sindroma metabolik, diabetes, alergi, gangguan organ reproduksi dan masalah-masalah lainnya seperti masalah kulit, seksual, psikologis. Penanganannya merupakan penanganan kronik yang tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan terapi obesitas sering tidak berhasil dengan baik dan lestari. Cenderung banyak yang berharap dan melakukan tindakan instan agar berat badan turun dengan cepat, hal ini dapat mempengaruhi kesehatan anda. Dengan demikian sangat penting untuk  memahami perilaku, pola diet dan aktifitas yang baik agar obesitas dapat dicegah dan diatasi. 

Om Samsak sekarang tampak gemuk, berbeda dengan 20 tahun yang lalu saat masihkuliah, tubuhnya tampak ramping. Hingga kini dia selalu sibuk dengan pekerjaan kantor, aktifitas fisiknya sedikit, makan dan camilan sering ia dapatkan dariberbagai acara meeting dan berbagai jamuan kantor lainnya. Contoh lain adalah Kakek Goni tubuhnya tampak gemuk, berbeda dengan saat menikah dia tampak langsing. Sejak sebelum pensiun Kakek Goni memang sudah terbiasa makan dengan porsi besar, jarang ngemil. Sekarang ia jarang beraktivitas, kerjanya nonton TV dan baca Koran sambil ngopi. 

Contoh cerita diatas adalah obesitas yang terjadi akibat adanya kesalahan dari perilaku dan mindset tentang makan serta aktifitas, yang terbentuk dari lingkungan keluarga dan lingkungan luar lainnya. Dulu gemuk identik dengan citra sukses dan makmur, pemahaman ini harus dirubah. Bila ingin sehat, ingin lebih sukses, ingin lebih produktif, ingin perkasa di atas ranjang, serta ingin mendapatkan hidup yang lebih berkualitas, maka cegahlah berat badan berlebih dan obesitas sejak dini.

Frekuensi makan erat kaitannya dengan peristiwa, misalnya:

  • Rapat / meeting.
  • Rehat kopi di kantor.
  • Terbangun malam hari nonton ‘sepak bola’ atau mengerjakan tugas (PR) malam hari.
  • Acara kumpul teman atau acara keluarga dan arisan.
  • Acara makan ketika belanja ke mall / toko /pasar.

Deteksi dini obesitas
Diantaranya obesitas terjadi pada orang-orang yang sebelumnya memiliki berat badan normal. Obesitas dapat terjadi dalam kurun waktu tertentu, dalam beberapa tahun bahkan puluhan tahun, sehingga obesitas dapat terjadi perlahan-lahan tanpa disadari. Mendeteksi adanya kenaikan berat badan penting dalam mencegah terjadinya obesitas. Lakukanlah timbang berat badan dan lingkar pinggang secara rutin, sekitar 3-6 bulan sekali. Makin sempitnya ukuran celana merupakan petanda yang baik bahwa lingkar perut menjadi semakin bertambah. Pada kondisi ini baiknya peduli untuk menurunkan berat badan, jangan segera mengganti celana dengan ukuran yang lebih besar. Risiko meningkat bila lingkar perut pria lebih dari 90 cm, atau ukuran celana lebih dari ukuran 36. Pada wanita, lingkar perut lebih dari 80 cm atau ukuran celana lebih dari ukuran 33.

Kepada dokter siapa anda sebaiknya berkonsultasi bila mengalami kelebihan berat badan?
Konsultasi medik masalah kegemukan dapat dilakukan pada dokter ahli endokrinologi metabolik atau dokter spesialis gizi klinik.

Kapan sebaiknya saya ke dokter?
Sebaiknya anda berkonsultasi kepada dokter:

  • Ketika berat badan mulai bertambah dan merasa sulit untuk diturunkan. Ingat mencegah terjadinya obesitas lebih baik daripada mengobatinya.
  • Ketika sudah timbul berbagai keluhan akibat adanya penyakit yang merupakan dampak dari kegemukan.
  • Ketika sudah menjalani terapi dari suatu penyakit dengan meminum obat yang justru malah menimbulkan kegemukan.
  • Bila gagal ‘coba ini dan coba itu’ untuk menurunkan berat badan.

Selain ke dokter, penderita obesitas juga perlu berkonsultasi kepada:

  • Dietisien, untuk dapat membuat rencana menu makan, menentukan bahan-bahan makanan.
  • Koki, untuk mendapatkan masakan yang bila dihidangkan enak rasanya.
  • Instruktur olah raga, untuk bisa melakukan olah raga yang benar, serta
  • Psikolog, untuk mendapatkan dukungan psikologi.

Konsumsi  lebih banyak serat dari makanan
Konsumsi serat yang berasal dari sayur dan buah. Cara yang mudah adalah setiap sarapan, makan siang dan makan malam, makanlah sayur sebanyak masing-masing satu kepalan tangan. Pada saat selingan pagi dan sore anda makan buah potong yang berair banyak masing-masing satu kepalan tangan. Keseluruhan, anda makan lima kepalan tangan sayur dan buah dalam satu hari, banyak kan?

Waspada terhadap makanan yang mengandung terlalu banyak minyak atau lemak
Dengan demikian akan tidak terlalu sering mengkonsumsi makanan yang berenergi tinggi. Anda dianjurkan untuk makan sumber lemak sebanyak 25% dari energi total sehari, artinya anda boleh makan lemak, misalnya lauk pauk yang digoreng. Jenis lemak yang baik adalah lemak nabati seperti minyak goreng. Lemak hewani tinggi kolesterol dan lemak jenuh.

Jenis makanan: 

  • Hindari makanan gorengan yang terlalu banyak minyak, gunakan minyak goreng sekali pakai, tiriskan lebih lama, bila perlu minyak dikeringkan dengan kertas tissue.
  • Hindari makanan yang mengandung lemak hewani dan mengandung banyak santan (santan kental). 
  • Pilihlah daging rendah lemak. Daging ayam tanpa kulitnya. Pilihlah makan rendah kolesterol: telur tanpa kuning telur, hindari kulit dan jeroan.
  • Cara memasak: Tumislah bumbu dalam katel anti gores dengan lebih sedikit minyak. Hindari pemakaian mentega / margarin.

Batasi gula dan berbagai jenis makanan yang berbahan dasar tepung (boleh dikonsumsi dua kali seminggu).
Gula ( putih, pasir, merah, aren) merupakan karbohidrat sederhana yang paling mudah diserap oleh tubuh, sehingga bersifat menggemukan. Tepung merupakan sumber karbohidrat yang telah terolah sehingga juga lebih mudah diserap oleh tubuh. Terdapat berbagai jenis tepung seperti tepung beras, tepung terigu, tepung singkong (aci) yang dapat dimakan dalam bentuk roti, mie, bakso, pempek, sosis, kue-kue kering/basah dan lain-lain. Bubur juga bersifat menggemukan karena mudah diserap oleh tubuh. Untuk mencegah kegemukan pilihlah sumber karbohidrat kompleks yang belum terolah, seperti nasi, kentang rebus , singkong rebus dan jagung rebus. 

Hidup aktif
Hidup aktif perlu dibiasakan pada semua anggota keluarga: anak-anak, remaja, dewasa dan lansia (pensiunan). Kurangi berbagai aktivitas diam seperti duduk menonton TV atau berlama-lama bermain games atau chatting atau bersosialita di depan komputer. Lakukan berbagai pekerjaan rumah seperti mencuci kendaraan, berkebun dan lain-lain. Walaupun aktivitas rumah tidak sama dengan olah raga, namun tetap aktif merupakan modal yang berguna untuk sehat. Kurangi pemakaian kendaraan seperti motor atau mobil, perbanyak jalan kaki.

Napas Terhenti Akibat Perut Buncit

Bukan hanya menimbulkan masalah pada penampilan, perut buncit juga bisa menjadi penyebab munculnya kondisi sleep apnea yang bisa mengancam jiwa. 

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahaya kondisi obesitas bagi kesehatan. Selain bisa memicu munculnya diabetes, serangan jantung, dan stroke, obesitas juga dinyatakan sebagai penyebab terjadinya obstructive sleep apnea (napas terhenti saat tidur), baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Faktor utama yang mengakibatkan terhentinya napas adalah tumpukan lemak pada daerah leher, dada, dan perut yang mengganggu kelancaran proses pernapasan.

Sebuah penelitian yang dilakukan di Jepang menyatakan bahwa penumpukan lemak visceral (lemak yang terkonsentrasi pada bagian perut) memiliki hubungan langsung terhadap terjadinya sleep apnea pada orang dewasa. Berdasarkan penelitian, orang yang memiliki kadar lemak visceral dalam jumlah tinggi juga memiliki tingkat oksigen dalam darah yang rendah, yang merupakan salah satu ciri penting pada penderita sleep apnea.

Penelitian lain yang dilakukan di Pennsylvania State College of Medicine, Amerika, juga menemukan kaitan antara lemak visceral dan sleep apnea, bahkan pada pria yang tidak dikategorikan menyandang obesitas.

Kabar baiknya, sleep apnea bisa dirawat. Salah satu terapi yang sudah terbukti bisa mengurangi insiden sleep apnea adalah penggunaan terapi CPAP (continous positive airway pressure). Metode terapi tersebut menggunakan masker yang berfungsi mengatur tekanan udara yang masuk ke saluran napas saat tidur.

Selain itu, mengatur pola makan dan meningkatkan aktvitas fisik—terutama olahraga yang berfokus melatih otot perut, juga dianjurkan untuk mengatasi kondisi obesitas dan mengecilkan lingkar pinggang.

Dengan melakukan langkah-langkah tersebut, sleep apnea serta berbagai gangguan kesehatan lainnya akibat obesitas pun bisa diatasi secara bertahap.

 

Sumber:

http://www.sleepfoundation.org/article/sleep-topics/obesity-and-sleep

http://www.huffingtonpost.com/dr-michael-j-breus/abdominal-fat-sleep-apnea_b_3529521.html